Ekonomi

Bukan Miliarder, Kelas Menengah dan OKB Kuasai Ekonomi Dunia

Bukan Miliarder, Kelas Menengah dan OKB Kuasai Ekonomi Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Peta geografi konsumsi global sedang bergeser. Banyak orang mengira bahwa kelompok super-kaya (ultra-wealthy) yang paling banyak membelanjakan uang. Padahal, kenyataannya atas dan kelompok baru (OKB) yang diproyeksikan bakal mendominasi . 

Saat ini hingga masa mendatang, peluang bisnis terbesar bukan berada di tangan 3.300 lebih miliarder atau 58 juta jutawan dunia. Penggerak utama konsumsi justru berasal dari kelompok 'orang kaya' dalam arti yang lebih luas, serta kelas menengah global yang kini populasinya telah menembus lebih dari empat miliar jiwa.

Mengutip hasil riset World Data Lab, Jumat (6/11/2026), lembaga ini telah memetakan kelompok masyarakat yang sanggup menikmati gaya hidup berkecukupan. Mereka mungkin tidak memiliki jet pribadi atau rumah mewah bagai istana, tetapi mereka mampu membeli tas Louis Vuitton, mobil premium, hingga berlibur secara mewah tanpa ragu. Dinamika kelompok inilah yang akan menentukan arah ekonomi dunia dalam sepuluh tahun ke depan.

World Data Lab mendefinisikan orang kaya sebagai siapa saja yang menghabiskan lebih dari US$ 130 per hari (berdasarkan paritas daya beli tahun 2021). Angka ini sepuluh kali lipat dari batas minimal masuk kelas menengah, sebuah ambang batas yang dirumuskan oleh ekonom Homi Kharas dalam bukunya The Rise of the Global Middle Class.

Untuk mempermudah gambaran pembagian tingkat ekonomi masyarakat: 

  • Kelompok Kaya: Hidup tenang tanpa beban finansial. Mereka hampir tidak perlu mengorbankan satu kebutuhan demi kebutuhan lainnya.
  • Kelas Menengah: Masih harus memilih prioritas. Berlibur tahun ini, membeli mobil baru, atau menabung untuk pendidikan anak, mereka tidak bisa memilih semuanya sekaligus.
  • Kelompok Miskin: Tidak memiliki pilihan tersebut. Fokus utama mereka sekadar bertahan hidup dan menghabiskan hampir seluruh pendapatan untuk makan, tempat tinggal, pakaian, serta transportasi.

Kelompok Kaya Tidak Kuasai Ekonomi Global

Berbeda dari persepsi umum, saat ini ada sekitar 323 juta orang kaya di bumi dengan total belanja mencapai US$ 25 triliun. Singkatnya, walau jumlah mereka cuma 4% dari penduduk dunia, mereka menguasai 36% seluruh pengeluaran global.

Coba bandingkan dengan para jutawan super-kaya yang jumlahnya 55 juta orang. Total belanja mereka diperkirakan 'hanya' US$ 10 triliun pada 2026, bahkan tak ada separuhnya dari total belanja kelompok kaya tadi.

Ini membuktikan bahwa pendorong utama ekonomi dunia sebenarnya bukan segelintir miliarder, melainkan ratusan juta warga kelas menengah atas dan Orang Kaya Baru (OKB).

Melihat tren saat ini, jumlah orang kaya terus bertumbuh secara konsisten dan signifikan. Pada tahun 2036, kelompok kaya diproyeksikan bertambah 213 juta orang dengan tambahan pengeluaran sebesar US$ 22 triliun. Sementara itu, kelas menengah akan bertambah 990 juta orang dengan tambahan pengeluaran US$ 21,5 triliun.

Artinya, meski pertumbuhan jumlah orang di kelas menengah mencapai 4,6 kali lipat dibanding kelompok kaya, kedua kelompok ini menyumbang nilai pengeluaran konsumsi baru yang relatif setara. Populasi orang kaya dunia diperkirakan menembus angka 500 juta jiwa pada tahun 2035 dan mendekati 1 miliar jiwa pada 2050, melonjak hampir tiga kali lipat hanya dalam satu generasi.

Ketimpangan Peta Wilayah Kemakmuran

Pada tahun 2026, hampir separuh orang kaya di dunia (44%) bermukim di Amerika Serikat, dan 74% di antaranya tinggal di negara-negara OECD. Kelompok kaya ini menyumbang 72% dari total pengeluaran konsumen di AS dan 49% di seluruh kawasan OECD. Angka ini kontras dengan negara berkembang yang mana kelompok kaya baru menyumbang sekitar 12% pengeluaran.

Bagi perusahaan barang mewah, hampir 88% belanja kelompok kaya dunia saat ini masih terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi (OECD).

Di sisi lain, saat ini terdapat 3,5 miliar jiwa (42,8% populasi dunia) yang hidup di bawah garis kelas konsumen, yang dikategorikan World Data Lab sebagai kelompok rentan dan miskin. Pada tahun 2036, angka ini diperkirakan turun menjadi 2,9 miliar jiwa (33,3% populasi dunia).

Saat ini, Asia menampung 58% dari populasi rentan/miskin dunia dan Afrika sebesar 34.7%. Namun pada tahun 2036,porsi Asia akan turun menjadi 45,8%, sementara Afrika naik menjadi 46,9%. Artinya, dalam satu dekade mendatang,mayoritas kemiskinan global tidak lagi berpusat di Asia, melainkan makin terkonsentrasi di benua Afrika.

Peningkatan porsi kemiskinan di Afrika terutama disebabkan oleh pertumbuhan populasi yang sangat cepat. Persentase warga Afrika yang tergolong rentan dan miskin sebenarnya diproyeksikan turun dari 78% menjadi 72% dalam sepuluh tahun ke depan. Namun, karena populasi Afrika bertambah 380 juta jiwa pada periode yang sama, jumlah secara absolut tetap naik dari 1,21 miliar menjadi 1,38 miliar jiwa.