Samarinda (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat perekonomian Kaltim pada Triwulan III-2026 tumbuh positif, ditopang oleh berlanjutnya aktivitas pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN) serta membaiknya kinerja ekspor komoditas unggulan daerah.
"Produk Domestik Bruto (PDB) Kaltim Triwulan III-2026 mencapai Rp257,11 triliun atas dasar harga berlaku, atau tumbuh 3,39 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu (y-on-y)," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim Mas'ud Rifai di Samarinda, Kamis.
Secara triwulanan, perekonomian Kaltim naik 0,93 persen ketimbang Triwulan II-2026, sedangkan secara kumulatif selama periode Januari–September 2026, perekonomian Kaltim tercatat tumbuh 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh penguatan aktivitas produksi. Nilai impor bahan baku dan penolong pada Triwulan III-2026 meningkat 75,11 persen secara tahunan, mengindikasikan industri masih beroperasi dengan kapasitas tinggi. Jumlah barang yang diangkut menggunakan angkutan laut juga naik 26,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia menjelaskan, pembangunan IKN menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan di mana aktivitas konstruksi terus berjalan, meliputi pembangunan Tahap II IKN, pembangunan gedung dan kawasan perkantoran lembaga legislatif dan yudikatif.
Menurut dia, perekonomian Kaltim juga ditopang pula oleh pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pabrik soda ash, dan proyek gasifikasi batu bara di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.
Kinerja perdagangan luar negeri juga memberikan kontribusi positif. Neraca perdagangan Kaltim pada Triwulan III-2026 tercatat surplus 5,96 miliar dolar AS, naik 15,76 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Nilai ekspor nonmigas naik 17,84 persen, sementara ekspor migas meningkat 80,11 persen. Peningkatan harga komoditas di pasar global, termasuk batu bara dan minyak bumi, turut mendongkrak nilai ekspor.
Di sisi lain, belanja pemerintah tercatat cenderung melambat seiring penyesuaian APBD 2026, dengan pendapatan daerah yang ditargetkan turun dari Rp14,25 triliun menjadi Rp14,33 triliun.
Namun aktivitas masyarakat tetap terjaga, terlihat dari peningkatan transaksi non-tunai serta kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara yang masing-masing naik 18,66 persen dan 18,10 persen secara triwulanan.
Mas'ud menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kaltim tetap berjalan di jalur positif meski menghadapi berbagai dinamika global.
"Sinergi antara pembangunan infrastruktur strategis, kinerja ekspor yang tangguh, dan konsumsi masyarakat yang stabil menjadi kunci ketahanan ekonomi daerah hingga kuartal ketiga tahun ini," katanya.