Nasional

Godzilla Minus Zero, teror monster raksasa yang tetap memikat

Godzilla Minus Zero, teror monster raksasa yang tetap memikat
Melalui perpaduan visual, tata suara, musik, dan karakter monster yang telah dikenal selama puluhan tahun, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang memuaskan bagi penggemar lama sekaligus membuka ruang bagi penonton baru untuk mengenal waralaba

Jakarta (ANTARA) - Waralaba "Godzilla" dari Jepang memiliki penggemar setianya di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia.

Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Toho Studios di Jepang pada 3 November 1954, sosok monster raksasa tersebut terus berevolusi melalui berbagai film, adaptasi, dan berbagai interpretasi figur aksi.

Hingga kini, waralaba itu telah berkembang menjadi 38 judul, termasuk produksi Jepang dan Hollywood, sekaligus mempertahankan tempat tersendiri di hati penggemar film monster (kaiju) lintas generasi.

Perjalanan panjang waralaba tersebut semakin berharga sejak salah satu film produksi studio asal Jepang dalam waralaba ini yakni Godzilla Minus One meraih penghargaan Academy Awards atau Piala Oscar untuk kategori Efek Visual Terbaik pada filmnya yang ke-37.

Hal tersebut menjadi salah satu topik pembahasan penggemar sekaligus anggota komunitas penggemar Ferdi Firdaus Ahmad dari Komunitas Tokusatsu (Komutoku) Indonesia dan Godzilla Freak Indonesia (GFI) saat digelarnya acara penayangan khusus (special screening) Godzilla Minus Zero di sebuah bioskop kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/11).

Penayangan khusus film terbaru Godzilla di Indonesia, yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-72 Godzilla sejak pertama kali tayang pada 3 November 1954, membuat Ferdi dkk. merasa tidak ingin melewatkannya.

Sebab, menurut Ferdi, Godzilla tak pernah meninggalkan ciri khas yang membuatnya dikenal sejak awal kemunculan yakni pertarungan monster yang masif, meskipun dikemas berbeda, sebelumnya menggunakan kostum karet (suitmation), kemudian dengan dukungan animatronik sebagai efek tambahan, sebelum beralih sepenuhnya ke teknologi digital atau computer-generated imagery (CGI) di era modern.

Dalam perbincangan tersebut, para penggemar menyoroti bagaimana Toho Studios terus merawat identitas asli Godzilla yang sudah membekas di ingatan mereka meski mengubah pendekatan visual dan penceritaan di filmnya, sehingga karakter tersebut tetap relevan bagi penonton dari generasi ke generasi.

Pengalaman menonton di layar bioskop berstandar IMAX juga menjadi daya tarik tersendiri. Bagi penggemar, menyaksikan Godzilla melalui layar lebih luas menghadirkan sensasi yang memikat dibandingkan dengan menonton melalui televisi atau layar bioskop reguler.

Bahkan, sensasi tersebut sudah dibangun sejak sebelum film dimulai lewat fase hitung mundur khas layar bioskop premium tersebut. Fase hitung dari angka 10 hingga 1 itu tidak statis, tapi menghadirkan pengalaman penuh yang khas.

Bagi penonton yang baru pertama kali mencoba menonton di IMAX, fase ini memicu lonjakan adrenalin dan memberikan gambaran nyata bahwa mereka akan segera merasakan pengalaman menonton yang imersif.

Adrenalin itu tidak dibiarkan menurun karena film pun langsung dimulai dengan memperlihatkan visual monster musuh Godzilla sejak awal. Rasio layar yang luas berpadu dengan tata suara yang menggelegar semakin membuat skala kehancuran dari pergerakan makhluk raksasa itu terasa lebih kuat.