JAKARTA — Masa pemeliharaan menjadi salah satu faktor yang menentukan efisiensi usaha budidaya ikan lele. Di tengah kebutuhan meningkatkan produktivitas perikanan, inovasi pakan dan pengelolaan kolam dikembangkan untuk mempercepat masa panen sekaligus menekan biaya produksi.
Muzammil Andriansyah, pehobi lele asal Madura yang mengembangkan usaha Raja Lele Indonesia di Kediri, Jawa Timur, mengklaim berhasil mempercepat masa panen lele menjadi 45 hari. Capaian tersebut dikembangkan melalui formula khusus pakan bersama sejumlah rekannya.
Muzammil, yang akrab disapa Haji Aan, mengatakan budidaya lele secara konvensional umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan hingga panen. Sementara itu, metode yang dikembangkan Raja Lele Indonesia memungkinkan panen pertama dilakukan ketika ikan berusia 45 hari.
Panen berikutnya dapat dilakukan pada usia 50 hari, sedangkan seluruh ikan dalam satu kolam ditargetkan selesai dipanen paling lambat pada usia 60 hari.
“Sebetulnya keunggulan utama dari kami itu kami menemukan inovasi suatu formula yang bisa membantu untuk percepatan usia panen lele jadi 45 hari. Itulah yang kami kembangkan,” ujar Haji Aan.
Menurut dia, formula tersebut juga diklaim mampu menghemat biaya pakan hingga 50 persen dibandingkan pola budidaya dengan masa pemeliharaan sekitar tiga bulan.
“Dari segi pakan, antara tiga bulan dan 45 hari, kami sudah menang 50 persen dengan tambahan formula yang kami formulasikan ke pakan tersebut,” ungkapnya.
Pengembangan metode tersebut, kata Haji Aan, tidak semata-mata diarahkan untuk memperluas usaha. Dia berharap inovasi itu dapat diterapkan pembudidaya lain sehingga efisiensi produksi dapat dirasakan lebih luas.
“Tujuan utama kami pun sebetulnya untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” katanya.
Salah satu konsumen Raja Lele Indonesia, Anton Sujarwo, mengaku tertarik dengan metode budidaya tersebut setelah berkecimpung selama 12 tahun dalam usaha lele. Dia mengatakan baru menemukan metode panen pada usia 45 hari di tempat tersebut.
“Saya terjun di dunia lele itu sudah selama 12 tahun ini. Nah, saya baru menemukan lele dalam usia 45 hari bisa panen cuma ada di sini. Itu untuk kualitasnya juga enggak kalah sama pembudidaya-pembudidaya yang lain,” kata Anton.
Anton juga menyoroti kemampuan budidaya dengan kepadatan ikan yang tinggi. Menurut dia, kualitas daging lele yang dihasilkan memiliki tekstur lebih tebal dan padat sehingga diminati konsumennya.
“Di Jawa Timur setahu saya itu yang bisa budidaya lele dengan kepadatan tinggi cuma ada di sini,” ujarnya.
Dari sisi pengelolaan kolam, Raja Lele Indonesia menerapkan sistem sirkulasi air selama 24 jam. Haji Aan mengatakan pergantian air secara berkelanjutan dilakukan untuk menjaga kondisi kolam dan memenuhi kebutuhan ikan.
“Air 24 jam kami nonstop selalu ganti dengan sirkulasi karena kebutuhan lele, mineral diambil dari mineral air tersebut. Jadi kolam kami tetap selalu bersih dan higienis,” jelasnya.
Kolam berukuran 6 x 10 meter yang digunakan saat ini disebut mampu menampung sekitar 150 ribu hingga 200 ribu ekor lele. Kepadatan tersebut membutuhkan pengelolaan kualitas air dan pemantauan kondisi ikan secara konsisten.
Ke depan, Haji Aan menargetkan pembangunan sentra budidaya di setiap provinsi. Rencana tersebut diharapkan dapat memperluas produksi sekaligus mendekatkan lokasi budidaya dengan pasar sehingga biaya distribusi dapat ditekan.
“Dan saya berharap tiap provinsi saya ingin membangun satu titik di seluruh Indonesia untuk menekan biaya transportasi. Itu harapan kita ke depan,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar metode budidaya yang dikembangkan Raja Lele Indonesia dapat diperkenalkan dan diterapkan di berbagai daerah. Dengan begitu, inovasi tersebut diharapkan membuka peluang peningkatan efisiensi usaha bagi pembudidaya sekaligus mendukung penguatan sektor perikanan nasional.