JAKARTA — Sikap sejumlah negara Eropa yang mengecam kesepakatan energi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat sindiran tajam dari Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Ketika para pemimpin Eropa mempersoalkan rencana Washington membeli solar Rusia, negara-negara Uni Eropa ternyata masih menjadi pelanggan utama gas alam cair (LNG) Moskow. Nilai pembeliannya bahkan mencapai sekitar €6 miliar atau setara Rp121,58 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026.
Rutte mempertanyakan konsistensi kritik tersebut dalam wawancara program televisi Belanda Pauw & De Wit, Kamis (5/11/2026). Ia mengakui bahwa pengumuman kerja sama perdagangan solar antara Trump dan Putin sempat mengejutkan sejumlah sekutu Amerika di Eropa. Namun, menurut Rutte, besarnya transaksi energi yang masih dilakukan negara-negara Eropa dengan Rusia tidak boleh diabaikan.
"Eropa juga bukan pihak yang suci," kata Rutte sebagaimana dilaporkan Brussels Signal, Jumat (6/11/2026).
Mantan perdana menteri Belanda itu bahkan mengakui dirinya sempat terkejut mengetahui keputusan Washington membuka kembali peluang perdagangan solar dengan Moskow. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa Eropa sendiri belum sepenuhnya memutus hubungan perdagangan energi dengan Rusia. Pembelian LNG oleh negara-negara Uni Eropa, menurut Rutte, menghasilkan nilai perdagangan yang jauh lebih besar dibandingkan potensi pendapatan Rusia dari kesepakatan solar tersebut.
Pernyataan Rutte muncul ketika kesepakatan Trump-Putin justru menghadapi hambatan dalam pelaksanaannya. Associated Press melaporkan pada 5 November bahwa dua kapal tanker pengangkut solar Rusia yang semula menuju Amerika telah mengubah rute pelayaran. Hingga perkembangan yang dilaporkan pada Sabtu (7/11/2026), belum terdapat konfirmasi bahwa pengiriman berdasarkan kesepakatan baru tersebut berhasil tiba di pelabuhan Amerika.
Pembelian Gas Rusia Tembus Rp120 Triliun
Besarnya ketergantungan Eropa terhadap pasokan gas Rusia terlihat dalam laporan organisasi lingkungan asal Jerman, Urgewald. Berdasarkan pengolahan data perusahaan intelijen komoditas Kpler, Uni Eropa diperkirakan membeli LNG dari proyek Yamal Rusia senilai €5,96 miliar atau sekitar Rp120,77 triliun selama Januari hingga Juni 2026. Nilai tersebut menjadi dasar pembulatan angka €6 miliar atau Rp121,58 triliun yang digunakan dalam pemberitaan mengenai pernyataan Rutte.
Dalam periode enam bulan itu, sebanyak 136 kargo LNG Yamal dikirim ke pelabuhan-pelabuhan Uni Eropa. Volume gas yang diterima mencapai 9,97 juta ton, meningkat 16 persen dari 8,57 juta ton pada semester pertama tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut terjadi ketika Brussels sedang memperketat kebijakan untuk mengakhiri ketergantungan energi terhadap Rusia.
Urgewald menemukan bahwa dari 140 pengiriman LNG Yamal ke berbagai negara selama semester pertama 2026, sebanyak 136 pengiriman berakhir di Uni Eropa. Dengan kata lain, lebih dari 97 persen pengiriman proyek tersebut ditujukan ke pasar Eropa. China hanya menerima empat kargo dengan volume sekitar 282 ribu ton.
Prancis tercatat sebagai penerima terbesar dengan 51 pengiriman atau sekitar 3,74 juta ton LNG. Belgia menyusul dengan 37 kargo berjumlah 2,70 juta ton, sementara Spanyol menerima 34 pengiriman dengan volume sekitar 2,50 juta ton. Sejumlah kargo lainnya juga memasuki pasar Belanda dan Portugal.
Besarnya transaksi tersebut memperlihatkan posisi penting konsumen Eropa bagi keberlangsungan proyek gas Yamal di wilayah Arktik Rusia. Fasilitas tersebut dioperasikan melalui perusahaan proyek yang dikendalikan Novatek, dengan kepemilikan saham dari sejumlah perusahaan internasional. Pasokan dari Yamal menjadi bagian dari jaringan energi yang belum sepenuhnya dihentikan Uni Eropa meskipun pembatasan terhadap sektor energi Rusia terus diperluas.
Nilai pembelian bahkan bertambah selama kuartal berikutnya. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada 9 Oktober 2026, Urgewald memperkirakan total impor LNG Yamal oleh Uni Eropa mencapai €7,88 miliar atau setara Rp159,68 triliun selama Januari hingga September. Jumlah gas yang diterima sepanjang sembilan bulan itu mencapai 12,18 juta ton melalui 167 pengiriman.
Volume tersebut bertambah 9,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Uni Eropa juga menyerap sekitar 85 persen dari keseluruhan pengiriman LNG Yamal yang tercatat selama sembilan bulan pertama 2026. Temuan ini memperlihatkan bahwa pasar Eropa masih menyerap sebagian besar produksi LNG Rusia dari fasilitas tersebut, meskipun rencana penghentian impor sudah diumumkan.
Seluruh angka pembayaran dalam penelitian Urgewald merupakan estimasi nilai bruto perdagangan berdasarkan volume pengiriman dan harga acuan gas. Perhitungan itu bukan catatan transaksi akhir yang telah diaudit, apalagi besaran keuntungan bersih pemerintah Rusia. Meski demikian, data tersebut menggambarkan skala perdagangan energi yang masih berlangsung antara Eropa dan Moskow.