Nasional

Ketika jurnalisme kena OTT AI 

Ketika jurnalisme kena OTT AI 
Ketika perusahaan pers kehilangan kemampuan membiayai peliputan dan verifikasi, yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlangsungan bisnis media

Jakarta (ANTARA) - Industri media menghadapi perubahan besar seiring perkembangan akal imitasi atau Artificial Intelligence (AI). Masyarakat kini dapat memperoleh ringkasan berita, penjelasan, hingga jawaban atas berbagai pertanyaan melalui layanan AI tanpa harus mengunjungi situs media yang memproduksi informasi tersebut.

Perubahan ini mengingatkan pada pengalaman industri telekomunikasi ketika layanan over the top (OTT) berkembang. Operator membangun jaringan dan menanggung investasi besar, tetapi aplikasi seperti WhatsApp dan Skype kemudian mengambil alih sebagian hubungan dengan pengguna serta nilai ekonomi layanan komunikasi.

Kini, industri jurnalistik menghadapi situasi serupa. Perusahaan pers tetap mengeluarkan biaya untuk mencari informasi, mengirim wartawan, melakukan verifikasi, dan memproduksi berita. Namun, masyarakat semakin banyak mengakses hasil kerja jurnalistik melalui layanan AI yang mengolah berbagai sumber menjadi jawaban langsung.

Perbedaannya, AI tidak sekadar menjadi saluran distribusi. Teknologi ini mampu membaca, menggabungkan, meringkas, dan menyajikan kembali informasi. Akibatnya, media berisiko kehilangan hubungan langsung dengan pembaca sekaligus sebagian nilai ekonomi dari konten yang dihasilkan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep platformisasi yang dikembangkan David B Nieborg dan Thomas Poell (2018). Mereka menjelaskan bagaimana platform digital mempengaruhi produksi, distribusi, dan sirkulasi konten melalui penguasaan infrastruktur dan algoritma.

Pengaruh tersebut telah dirasakan media sejak era mesin pencari dan media sosial. Kini, AI berpotensi membawa ketergantungan itu ke tahap berikutnya. Jika sebelumnya mesin pencari mengarahkan pengguna ke situs berita, AI dapat langsung memberikan jawaban sehingga pengguna tidak selalu perlu membuka sumber aslinya.

Penelitian Pew Research Center pada Juli 2025 terhadap 900 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa pengguna yang melihat ringkasan AI di Google hanya mengeklik hasil pencarian konvensional dalam delapan persen kunjungan. Angka tersebut mencapai 15 persen pada halaman tanpa ringkasan AI. Tautan sumber dalam ringkasan AI hanya diklik dalam 1 persen kunjungan.

Tekanan terhadap trafik media juga terlihat dalam laporan Reuters Institute 2026. Berdasarkan data Chartbeat terhadap lebih dari 2.500 situs berita, trafik rujukan Google Search turun 33 persen secara global antara November 2024 dan November 2025.

Data tersebut menunjukkan perubahan pola konsumsi informasi. Meski penurunan trafik juga dipengaruhi perubahan algoritma dan perilaku pengguna, industri media perlu mengantisipasi semakin besarnya peran AI dalam distribusi berita.