Ekonomi

Megathrust Hantam Tetangga Tak Terasa di RI, Awas Tsunami Sapu Pesisir

Megathrust Hantam Tetangga Tak Terasa di RI, Awas Tsunami Sapu Pesisir

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Filipina menggelar uji kesiapsiagaan bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan M8,5 dan tsunami. Simulasi berkala besar digelar di wilayah Cagayan, Kamis (5/11/2026) waktu setempat.

Simulasi menggambarkan gempa bumi yang dipicu pergerakan di sepanjang East Luzon Trough, dengan pusat gempa berada sekitar 180 kilometer tenggara wilayah pesisir tersebut.

Melansir The Manila Times, Kantor Pertahanan Sipil Filipina (Office of Civil Defense/OCD) menyatakan latihan tersebut akan melibatkan petugas tanggap darurat, pemerintah daerah, serta masyarakat. Simulasi utama akan digelar di Santa Ana, Cagayan.

Lantas, bagaimana efeknya ke Indonesia jika gempa itu benar-benar terjadi?

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia menjelaskan, dari perspektif ancaman, gempa besar di Filipina selatan, khususnya kawasan Mindanao, Philippine Trench, dan Laut Sulawesi, perlu mendapat perhatian karena berpotensi berdampak pada Kepulauan Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

Karena itu, ujarnya, Indonesia perlu segera memperkuat sistem peringatan dini tsunami lintas negara melalui integrasi data seismik, pengamatan muka laut, dan pemodelan propagasi tsunami regional.

"Simulasi gempa M8,5 di kawasan Santa Ana, Cagayan, Filipina, merupakan contoh penting kesiapsiagaan berbasis skenario ekstrem, bukan prediksi akan terjadinya gempa," kata Daryono, Kamis (5/11/2026).

"Perlu ditegaskan, gempa M 8,5 di Filipina tidak otomatis menghasilkan tsunami besar di Indonesia karena pengaruh geometri sumber, penghalang kepulauan, dan karakteristik penjalaran gelombang harus dikaji melalui pemodelan numerik," tambah Daryono.

Namun, sambung Daryono, bukan tidak mungkin Indonesia kena dampak ekstrem jika gempa besar melanda wilayah-wilayah di negara tetangga.

Karena itu, imbuh dia, Indonesia perlu memperluas paradigma kesiapsiagaan gempa dan tsunami, tidak hanya mengantisipasi sumber gempa di dalam negeri, tapi juga gempa besar di negara tetangga.

Apalagi, ujarnya, secara tektonik, Indonesia berada pada kawasan pertemuan sistem lempeng yang sangat kompleks dan terhubung dengan zona subduksi aktif di Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, hingga kawasan Andaman.

"Gempa besar di wilayah tersebut, khususnya gempa megathrust dangkal dengan mekanisme sesar naik yangg menyebabkan deformasi vertikal dasar laut, berpotensi membangkitkan tsunami lintas batas (transboundary tsunami)," katanya.

"Tsunami tidak mengenal batas negara dan dapat menjalar ratusan hingga ribuan kilometer. Namun, besarnya dampak di Indonesia sangat ditentukan oleh lokasi sumber, mekanisme patahan, besarnya deformasi dasar laut, batimetri, serta arah propagasi energi tsunami," jelas Daryono.

Dia mengingatkan, gempa besar di Papua Nugini dan kawasan Solomon harus diantisipasi oleh wilayah pesisir utara Papua yang berhadapan dengan Samudra Pasifik. Zona subduksi Andaman juga relevan bagi kesiapsiagaan Aceh dan pantai barat Sumatra.

Pulau Andaman. (Googlemaps)Pulau Andaman. (Googlemaps) Foto: Pulau Andaman. (Googlemaps)

Tak hanya itu, ungkap dia, skenario yang perlu mendapat perhatian adalah gempa megathrust besar di Filipina selatan yang berpotensi mengancam Sangihe-Talaud dan Sulawesi Utara. Serta gempa besar di Papua Nugini atau kawasan Solomon yang dapat mengirimkan tsunami menuju pesisir utara Papua.

"Potensi terburuk tsunami lintas batas adalah ketika gempa megathrust sangat besar di negara tetangga membangkitkan tsunami yang menjalar menuju Indonesia, sementara masyarakat pesisir tidak merasakan guncangan gempa sehingga tidak menyadari adanya ancaman," ucap Daryono.

"Kondisi ini sangat berbahaya karena masyarakat kehilangan salah satu tanda alam utama untuk melakukan evakuasi mandiri. Jika peringatan dini terlambat diterima, jaringan komunikasi terganggu, atau jalur evakuasi tidak memadai, tsunami dapat mencapai kawasan permukiman, pelabuhan, dan fasilitas vital ketika masyarakat masih beraktivitas normal," tukas Daryono.

Dalam kondisi tertentu, terangnya, energi tsunami dapat terfokus oleh bentuk dasar laut dan geometri pantai, sehingga menghasilkan gelombang lebih tinggi atau arus lebih kuat di lokasi tertentu. Bahkan pelabuhan yang tidak mengalami genangan besar tetap dapat mengalami kerusakan akibat arus tsunami yang sangat kuat.

"Dalam skenario ekstrem, tsunami dapat menimbulkan genangan luas pada dataran rendah, menghancurkan bangunan pesisir, menyeret kendaraan dan kapal, merusak pelabuhan, memutus komunikasi, serta melumpuhkan fasilitas kesehatan dan distribusi logistik," katanya.

"Tsunami juga dapat datang berulang selama berjam-jam, dan gelombang pertama belum tentu yang terbesar," ucap Daryono.

Di saat bersamaan, cetusnya, dampak terburuk dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan lintas negara. Jika beberapa kawasan pesisir terdampak bersamaan, kapasitas penyelamatan dan bantuan regional mengalami tekanan.

Di sisi lain, Daryono tetap mengingatkan agar pembahasan ini tidak terjebak pada narasi tingkat kedahsyatan tsunami.

"Secara ilmiah kita tidak boleh langsung menyebut tsunami 10, 20, atau 30 meter, sehingga ancaman dari gempa negara tetangga tanpa hasil pemodelan. Besarnya tsunami harus dihitung berdasarkan skenario magnitudo, dimensi dan slip patahan, kedalaman sumber, batimetri, serta topografi pesisir," ujarnya.

"Pelajaran terpentingnya adalah bahwa ancaman paling berbahaya bukan semata-mata tsunami yangg tinggi, tetapi tsunami yangg tiba ketika masyarakat tidak merasakan gempa, tidak menerima peringatan, dan belum melakukan evakuasi. Inilah alasan Indonesia harus memperkuat kesiapsiagaan tsunami lintas batas mulai sekarang," tegas Daryono.

Apa saja yang harus dilakukan Indonesia bersiaga menghadapi efek domino bencana gempa bumi besar di negara tetangga?

Daryono mengatakan, Indonesia perlu segera memperkuat sistem peringatan dini tsunami lintas negara melalui integrasi data seismik, pengamatan muka laut, dan pemodelan propagasi tsunami regional.

"Prioritasnya adalah menyusun skenario sumber gempa besar di sekitar perbatasan, menghitung estimasi waktu tiba dan tinggi tsunami di pesisir Indonesia, serta mengidentifikasi kawasan yang memiliki waktu evakuasi sangat terbatas," ujarnya.

Penguatan jaringan tide gauge, sistem komunikasi cadangan, dan diseminasi peringatan hingga tingkat desa menjadi kebutuhan mendesak.

"Hal ini penting karena tsunami dari negara tetangga dapat mencapai Indonesia tanpa didahului guncangan gempa yang dirasakan masyarakat," sambungnya.

Juga, ujarnya, yang tidak kalah penting adalah membangun kesiapsiagaan masyarakat melalui pemetaan bahaya, penyediaan jalur dan tempat evakuasi, latihan berkala, serta penguatan komunitas Tsunami Ready, terutama di kawasan pesisir perbatasan.

"Indonesia juga perlu menginisiasi latihan bersama dengan negara tetangga untuk menguji kecepatan pertukaran informasi, pengambilan keputusan, dan efektivitas evakuasi. Ukuran keberhasilan mitigasi bukan hanya seberapa cepat gempa terdeteksi dan peringatan diterbitkan, tetapi seberapa banyak masyarakat mampu mencapai tempat aman sebelum tsunami tiba," tukas Daryono.

"Kita tidak dapat mencegah gempa besar di negara tetangga, tetapi dapat mencegahnya berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar melalui kesiapsiagaan berbasis sains, teknologi, dan kerja sama regional. Bencana tidak mengenal batas negara, sehingga kesiapsiagaan juga tidak boleh dibatasi oleh batas negara," tegasnya.

Pulau Sangihe. (Googlemaps)Pulau Sangihe. (Googlemaps) Foto: Pulau Sangihe. (Googlemaps)
[Gambas:Video CNBC]