Nasional

Mengapa anak muda suka pinjol? Ini 7 alasan dan risikonya

Mengapa anak muda suka pinjol? Ini 7 alasan dan risikonya

Jakarta (ANTARA) - Kemudahan mengakses layanan keuangan melalui ponsel membuat pinjaman online (pinjol) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi kalangan anak muda. Proses pengajuan yang praktis, pencairan dana relatif cepat, hingga kebutuhan mendadak menjadi sejumlah alasan layanan tersebut digunakan.

Meski kerap dikaitkan dengan perilaku konsumtif, penggunaan pinjol tidak selalu berawal dari keinginan membeli barang untuk mengikuti tren. Sebagian orang memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar tagihan, mencicil barang, hingga menghadapi kondisi keuangan yang tidak terduga.

Namun, kemudahan memperoleh pinjaman juga menyimpan risiko. Tanpa perhitungan kemampuan membayar, pinjaman yang awalnya dianggap sebagai solusi jangka pendek dapat berkembang menjadi beban keuangan berkepanjangan.

Lantas, apa saja alasan anak muda menggunakan pinjol dan hal apa yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan pinjaman?

Alasan anak muda menggunakan pinjol

Penggunaan pinjol di kalangan anak muda tidak terlepas dari perubahan kebiasaan transaksi keuangan yang semakin digital. Layanan pinjaman dapat diakses melalui aplikasi sehingga pengajuan tidak selalu mengharuskan calon peminjam datang langsung ke kantor lembaga keuangan.

Survei Jakpat pada paruh kedua 2025 terhadap 2.089 responden dari kelompok Gen Z, milenial, dan Gen X menemukan bahwa 11 persen responden menggunakan pinjaman online. Dalam survei tersebut, Gen Z juga tercatat sebagai kelompok yang paling rentan menggunakan layanan pinjaman digital.

Berikut sejumlah alasan yang mendorong anak muda menggunakan pinjol.

1. Proses pengajuan mudah dan cepat

Kemudahan menjadi salah satu daya tarik utama pinjol. Calon peminjam dapat mengajukan pinjaman melalui ponsel tanpa harus mendatangi kantor penyedia layanan.

Survei Jakpat menunjukkan, 61 persen responden memilih pinjaman online karena proses pengajuannya cepat dan sederhana. Sementara itu, 57 persen tertarik karena persyaratan pengajuan dinilai lebih mudah.

Kondisi tersebut membuat pinjol terlihat praktis, terutama bagi anak muda yang membutuhkan dana dalam waktu relatif singkat. Namun, kemudahan pengajuan tidak berarti kewajiban pembayaran dapat dianggap ringan.

2. Membutuhkan dana dalam waktu mendesak

Kebutuhan mendadak juga menjadi alasan seseorang menggunakan pinjaman online. Pengeluaran untuk kesehatan, kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, atau keperluan lain terkadang muncul ketika kondisi keuangan sedang terbatas.

Dalam survei Jakpat, sebanyak 55 persen pengguna pinjol dari kelompok Gen Z mengaku memanfaatkannya untuk kebutuhan mendesak.

Meski demikian, pinjaman tetap perlu diperhitungkan berdasarkan kemampuan membayar. Menggunakan utang untuk kebutuhan darurat tanpa memperhitungkan pendapatan berikutnya dapat menimbulkan persoalan keuangan baru.

3. Memenuhi kebutuhan sehari-hari

Sebagian anak muda menggunakan pinjaman digital bukan hanya untuk membeli barang mahal, melainkan juga memenuhi kebutuhan rutin.

Survei Jakpat mencatat 56 persen pengguna pinjol dari kelompok Gen Z menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 42 persen lainnya memanfaatkan layanan tersebut untuk membayar tagihan.

Hal ini dapat terjadi ketika pengeluaran bulanan lebih besar daripada pendapatan atau ketika seseorang belum memiliki dana darurat yang cukup.

Jika pinjaman terus digunakan untuk menutup kebutuhan rutin, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian. Sebab, utang yang digunakan berulang kali untuk membiayai pengeluaran sehari-hari berisiko membuat keuangan semakin sulit dikendalikan.

4. Tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli barang

Keinginan memiliki ponsel terbaru, pakaian, perangkat elektronik, atau barang lain terkadang tidak sejalan dengan kemampuan finansial.

Pinjaman online dan layanan pembayaran kemudian menjadi alternatif bagi sebagian anak muda yang ingin memperoleh barang tanpa harus membayar seluruh harganya sekaligus.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan belanja digital. Kemudahan transaksi dan penawaran cicilan dapat membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan pembelian tanpa mempertimbangkan total kewajiban yang harus dibayar.

5. Tergiur diskon dan promosi

Diskon, cashback, dan penawaran cicilan menjadi faktor lain yang dapat mendorong penggunaan layanan kredit digital.

Sebagian konsumen menganggap transaksi dengan cicilan lebih menguntungkan karena dapat membagi pembayaran ke beberapa periode. Padahal, potongan harga belum tentu membuat pembelian menjadi lebih hemat apabila barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Laporan The Straits Times pada Mei 2026 menggambarkan bagaimana promosi pembayaran cicilan dapat mendorong anak muda melakukan pembelian berulang. Dalam salah satu kasus yang diberitakan, seorang pekerja berusia 28 tahun awalnya menggunakan layanan buy now, pay later untuk membeli pakaian, kemudian mengambil pinjaman dari beberapa aplikasi untuk membayar cicilan sebelumnya.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa promosi dan kemudahan transaksi dapat menjadi pemicu perilaku konsumtif apabila tidak disertai perencanaan keuangan.

6. Belum memiliki akses kredit konvensional

Sebagian anak muda yang baru memasuki dunia kerja belum memiliki riwayat kredit atau dokumen pendukung yang dibutuhkan untuk mengajukan pinjaman melalui lembaga keuangan konvensional.

Dalam kondisi tersebut, layanan pinjaman digital dapat terlihat sebagai alternatif karena proses pengajuannya dilakukan secara daring dan persyaratannya relatif sederhana.

Namun, kemudahan akses tersebut tetap harus diimbangi dengan pemahaman mengenai bunga, biaya administrasi, tenor, denda keterlambatan, dan total pembayaran.

7. Pengaruh lingkungan dan gaya hidup digital

Kebiasaan mengikuti tren, melihat promosi di media sosial, hingga pengaruh lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi keputusan finansial anak muda.

Keinginan untuk memiliki barang yang sama dengan teman atau mengikuti aktivitas tertentu terkadang membuat seseorang mengabaikan kondisi keuangannya.

Riset Women's World Banking yang melibatkan lebih dari 1.500 mahasiswa dan lebih dari 100 pemangku kepentingan di Indonesia pada 2025 menemukan bahwa sebagian anak muda menggunakan kredit digital tanpa sepenuhnya memahami risiko pembayaran kembali. Riset tersebut juga menyoroti pengaruh aplikasi, influencer, dan algoritma terhadap keputusan keuangan generasi muda.

Anak muda mendominasi pengguna pinjol

Besarnya keterlibatan kelompok usia muda dalam layanan pinjaman digital juga terlihat dari data yang diberitakan Channel News Asia (CNA).

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode April 2025, kelompok usia 19–34 tahun memiliki outstanding pinjaman atau nilai pinjaman yang masih berjalan sebesar Rp38,34 triliun. Jumlah tersebut merupakan bagian terbesar dari total outstanding pinjaman peer-to-peer lending yang mencapai Rp76,16 triliun pada periode tersebut.

Kelompok usia 35–54 tahun berada di posisi berikutnya dengan outstanding pinjaman Rp34,28 triliun. Data ini memperlihatkan besarnya keterlibatan kelompok usia produktif dalam layanan pinjaman digital.

Sementara itu, laporan yang mengutip survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 yang mencatat bahwa generasi milenial dan Gen Z mencakup 86,6 persen peminjam online di Indonesia.

Angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran komposisi pengguna dalam survei, bukan berarti 86,6 persen seluruh anak muda Indonesia menggunakan pinjol.

Risiko yang perlu dipahami sebelum menggunakan pinjol

Di balik kemudahan memperoleh dana, pinjaman online memiliki kewajiban pembayaran yang harus dipenuhi sesuai perjanjian. Jika tidak dikelola dengan baik, pinjaman dapat berkembang menjadi beban keuangan.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Bunga dan biaya tambahan

Peminjam perlu memahami bunga, biaya layanan, administrasi, serta denda keterlambatan sebelum menyetujui pinjaman.

2. Utang menumpuk

Mengambil pinjaman baru untuk membayar cicilan lama dapat menciptakan siklus utang yang semakin sulit dihentikan.

3. Gangguan arus kas

Cicilan yang terlalu besar dapat mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban bulanan lainnya.

4. Risiko gagal bayar

Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan biaya tambahan dan memengaruhi catatan kredit sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Penyalahgunaan data pribadi

Pengguna perlu berhati-hati terhadap aplikasi ilegal yang berpotensi menyalahgunakan informasi pribadi.

Laporan The Straits Times juga menyoroti fenomena debt treadmill, yakni kondisi ketika seseorang terus mengambil pinjaman baru untuk membayar kewajiban sebelumnya. Kemudahan pengajuan dan kurangnya pemahaman mengenai akumulasi bunga serta biaya dapat memperburuk situasi tersebut.

Cara menggunakan pinjol dengan lebih bijak

Pinjaman online tidak selalu harus dihindari, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Sebelum mengajukan pinjaman, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.

1. Pastikan penyedia layanan legal

Periksa status izin dan pengawasan penyedia pinjaman melalui kanal resmi OJK. Jangan mudah percaya pada penawaran yang hanya beredar melalui pesan singkat atau media sosial.

2. Hitung kemampuan membayar

Sesuaikan jumlah cicilan dengan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan pokok dan kewajiban lainnya.

3. Pahami seluruh biaya

Periksa bunga, biaya administrasi, tenor, denda, serta jumlah keseluruhan yang harus dikembalikan.

4. Hindari pinjaman untuk kebutuhan konsumtif

Sebaiknya jangan mengambil utang hanya untuk mengikuti tren, membeli barang yang tidak mendesak, atau memenuhi keinginan sesaat.

5. Jangan menutup utang dengan utang baru

Jika mulai kesulitan membayar, hubungi penyedia layanan untuk mencari informasi mengenai penyelesaian kewajiban sesuai ketentuan.

6. Jangan memberikan data pribadi sembarangan

Hindari mengirimkan kode OTP, PIN, kata sandi, atau informasi sensitif kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi.

Dengan demikian, alasan anak muda menggunakan pinjol tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup. Kebutuhan mendesak, pengeluaran sehari-hari, kemudahan pengajuan, hingga keterbatasan akses ke layanan keuangan lain turut memengaruhi keputusan tersebut.

Kemudahan memperoleh pinjaman seharusnya tetap diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan. Sebab, dana yang diterima hari ini merupakan kewajiban yang harus dibayar pada masa mendatang.