Ekonomi

Pekerja Informal bisa Pensiun Tenang? Ini Jurus Siapkan Dana Hari Tua

Pekerja Informal bisa Pensiun Tenang? Ini Jurus Siapkan Dana Hari Tua
Jakarta, CNN Indonesia

Bayangkan saat usia tak lagi muda dan tenaga mulai terbatas, Anda tak perlu cemas menyoal biaya hidup harian apalagi . Gambaran itu cukup jelas bagi pegawai negeri sipil () atau karyawan swasta, lalu bagaimana dengan  informal?

Sayangnya, impian ini sering kali terasa jauh bagi para pekerja mandiri yang tak memiliki jaminan pensiun dari perusahaan.

Berbeda dengan PNS atau karyawan swasta yang menikmati potongan dana pensiun otomatis dari perusahaan, pekerja mandiri dan informal justru harus berjuang membangun jaminan hari tuanya secara mandiri.

Ketiadaan skema pensiun rutin ini seringkali membuat kelompok pekerja informal rentan menghadapi ketidakpastian finansial saat tidak lagi produktif bekerja.

Lantas, bagaimana strategi ideal bagi pekerja mandiri untuk mulai mengumpulkan dana pensiun, dan seberapa besar target yang sebenarnya harus dipersiapkan?

1. Mulai Sedini Mungkin 
Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo mengungkapkan bahwa kunci utama bagi pekerja informal adalah menyisihkan dana sejak awal.

Semakin cepat memulai, semakin kecil persentase pendapatan bulanan yang perlu dialokasikan karena memiliki jangka waktu investasi yang lebih panjang.

"Misalnya, apabila kita ingin mempersiapkan dana hari tua dengan gaya hidup yang sama apabila dimulai di umur 20-an dengan rencana pensiun di usia 55 mungkin cukup dengan menyisihkan sekitar 10-15 persen dari pendapatan. Namun, akan berbeda ketika dimulai di usia 40-an yang bisa mencapai 40 persen dari pendapatan," ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/11).

Selain ketepatan waktu, Budi mengingatkan pentingnya memutar dana di instrumen yang efisien secara pajak serta melengkapinya dengan dana darurat dan proteksi.

"Kita tidak ingin hasil akumulasi dan pengembangan dana investasi nantinya terpakai untuk kondisi darurat. Jadi alokasi dana darurat dan proteksi yang memadai sangat dibutuhkan sebagai pendamping rencana investasi kita," terangnya.

2. Hitung Target Kebutuhan 
Terkait akumulasi dana yang wajib dikumpulkan, Budi menyarankan metode kalkulasi praktis bernama "Rule of 4 persen".

Rumus ini menghitung target dana pensiun dengan membagi estimasi pengeluaran tahunan dengan angka 4 persen.

"Misalnya pengeluaran tahunan adalah Rp5 juta per bulan kali 12 = Rp60 juta per tahun. Maka kebutuhan dana hari tua kita adalah Rp60 juta / 4 persen = Rp1,5 miliar. Namun, angka ini belum memperhatikan tingkat inflasi," jelas Budi.

3. Alokasi Otomatis ala Pekerja Formal
Sementara itu, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan pekerja mandiri untuk mendisiplinkan diri dengan mengadaptasi skema pemotongan gaji yang biasa diterapkan pada karyawan perusahaan.

Andi menyebut persentase iuran pensiun standar pada sektor formal dapat dijadikan patokan awal yang ideal bagi pekerja mandiri.

Besaran persentase tersebut dapat dialirkan secara mandiri ke instrumen khusus seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) maupun aset investasi lainnya.

"Kita bisa mencontoh sistem yang digunakan oleh perusahaan dalam memotong gaji karyawannya untuk disisihkan masuk ke rekening BPJS hari tua, yaitu totalnya sebesar 5,7 persen per bulan atau bisa dibulatkan jadi 6 persen," kata Andi.

4. Estimasi Dana Berdasarkan Angka Harapan Hidup
Untuk menentukan target dana hari tua, Andi membagikan pendekatan alternatif dengan menghitung selisih antara target usia pensiun dan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia, yakni 72 tahun.

Ia mencontohkan kalkulasi bagi pekerja yang ingin pensiun di usia 56 tahun yang berarti jeda 16 tahun dengan masa masa pensiun. Kemudian, dengan estimasi pengeluaran Rp7 juta per bulan.

"Total dana yang dibutuhkan = (7 juta x 12 bulan ) x 16 tahun = Rp1,344 miliar," papar Andi.

Namun, Andi menambahkan bahwa hasil akhir sebesar Rp1,344 miliar tersebut merupakan perhitungan dasar yang masih harus disesuaikan dengan asumsi laju inflasi serta kondisi kesehatan masing-masing individu di masa mendatang.

(ins)