Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo yakin pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026 bisa lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2026.
Sekadar catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026 dan 5,61% secara tahunan pada kuartal I-2026. Sehingga, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026.
Adapun untuk realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026, akan segera diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) esok hari.
"Insya Allah, saya yakin pertumbuhan kuartal III-2026 bisa lebih tinggi dari semester I-2026," ujar Dradjad kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, setidaknya ada delapan data dan catatan yang melandasi proyeksi tersebut. Pertama, data Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia berada pada level 52,28 pada kuartal III-2026. Level ini berada pada zona ekspansi karena berada di atas 50.
Kedua, Indeks Kepercayaan Industri sebesar 51,93 pada September 2026. Artinya, kata dia, industri manufakturing ekspansif. Dalam hal ini, impor bahan baku dan penolong serta impor barang modal untuk industri juga naik. Artinya industri manufaktur dalam kondisi ekspansif.
Ketiga, kredit modal kerja, investasi dan konsumsi pada Juli-Agustus 2026 secara tahunan juga naik. Keempat, data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan penjualan mobil dari pabrik ke diler (wholesale) tumbuh 31,25% dan penjualan ritel tumbuh 25,36% secara tahunan pada kuartal III-2026.
Kelima, data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia menunjukkan penjualan motor tumbuh 8,92% secara tahunan pada kuartal III-2026. Keenam, PT PLN (Persero) menginformasikan penjualan listrik naik pada kuartal III-2026. Hal ini terjadi karena kenaikan konsumsi listrik rumah tangga, bisnis, dan industri.
Ketujuh, terdapat efek musiman dari liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Hal ini membuat perjalanan wisatawan nusantara naik. Jumlah perjalanan darat, laut dan udara masyarakat juga naik.
"Negara tetangga juga libur sekolah, jumlah wisatawan mancanegara juga naik," ujarnya.
Badan Pusat Statistik melaporkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada September 2026 mencapai 1,43 juta kunjungan, naik 2,31% secara tahunan. Sementara, jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada September 2026 mencapai 96,69 juta perjalanan, naik 2,47% secara tahunan. Di sisi lain, jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) pada September 2026 mencapai 600,61 ribu perjalanan, turun 13,69% secara tahunan.
Kedelapan, belanja pemerintah untuk konstruksi tumbuh sebesar 63,65% secara tahunan, ditambah belanja untuk program-program prioritas pemerintah dan berbagai stimulus.
Di sisi lain, Dradjad mengatakan memang harus diakui ada beberapa jenis usaha yang pertumbuhannya tidak sesuai harapan. Misalnya, ritel di pusat perbelanjaan besar.
Namun, dia mengatakan fenomena ini bukan berarti ekonomi tumbuh lambat. Menurutnya, penyebabnya adalah perekonomian Indonesia mengalami transformasi akibat disrupsi teknologi.
Dia mengatakan terjadi pergeseran konsumsi dan pola belanja masyarakat. Misalnya, rumah tangga makin mengurangi menyimpan stok kebutuhan bulanan. Banyak yang sekarang memilih belanja secara daring (online) atau membeli dari waralaba ritel maupun ritel rakyat. Sehingga hal itu menyebabkan pertumbuhan yang pesat bagi waralaba ritel.
"Jadi pelaku usaha memang harus beradaptasi dengan transformasi akibat disrupsi ini," ujarnya.
[Gambas:Video CNBC]