JAKARTA – Akses terhadap mentor, jejaring profesional, dan ruang pengembangan diri masih menjadi tantangan bagi perempuan muda yang ingin memasuki posisi kepemimpinan. Saraswati Fellowship berupaya menjawab kesenjangan tersebut melalui program pendampingan lintas sektor yang telah meluluskan 30 peserta angkatan kedua.
Program mentorship kepemimpinan perempuan yang diinisiasi Rahayu Saraswati Djojohadikusumo di bawah naungan Shandri Foundation itu menggelar Graduation Batch II di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (7/11). Sebanyak 30 peserta atau fellows dinyatakan menyelesaikan program intensif selama tiga bulan.
Penyelenggara mencatat 473 pendaftar pada angkatan kedua. Secara keseluruhan, jumlah pendaftar sejak angkatan pertama diperkirakan telah melampaui 973 orang. Pada Batch II, program menghadirkan 11 mentor dari delapan sektor dan industri untuk memberikan pendampingan serta memperluas perspektif kepemimpinan peserta.
Inisiator Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, mengatakan Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kapasitas dan pengalaman yang dapat menjadi teladan. Namun, potensi tersebut perlu didukung lingkungan yang memberi kesempatan untuk berkembang. “Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat,” ungkap Sara dalam sambutannya, berdssarkan siaran pers, Sabtu (7/11/2026).
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI tersebut juga menyebut bahwa ibunya, Anie Hashim Djojohadikusumo, sebagai sosok yang berperan besar dalam membentuk dirinya. Menurut Sara, perempuan muda membutuhkan dukungan lingkungan, akses terhadap mentor, sumber daya, dan ruang pengembangan kepemimpinan agar dapat mengoptimalkan potensinya.
“Saya sangat menyadari bahwa perempuan hebat lahir dari support system dan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya,” lanjut Sara.
Dia mengatakan, Saraswati Fellowship hadir untuk membangun sistem dukungan tersebut sekaligus menghadirkan lebih banyak sosok perempuan yang dapat menjadi rujukan bagi generasi muda. Sara juga menekankan bahwa peningkatan keterwakilan perempuan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk laki-laki, sebagai bagian dari perubahan.
Salah satu mentor program, Retno Marsudi, mengatakan bersedia bergabung karena mendukung pengembangan kapasitas dan kepemimpinan perempuan. Mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024 yang kini menjabat Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air itu menilai program pendampingan dapat membuka kesempatan bagi perempuan muda untuk berkembang.
“Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mengatakan yes,” ungkap Retno mengenai kesediaannya menjadi mentor.
Retno menilai peningkatan kapasitas individu perlu diikuti perubahan sistem agar perempuan memiliki kesempatan lebih besar menduduki posisi pengambilan keputusan. Keterwakilan perempuan di posisi strategis dinilai dapat membuka ruang untuk memengaruhi kebijakan dan memperbaiki keadaan.
“Kita tidak bisa hanya meminta perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya. Kita juga harus mengubah sistem dan membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk memimpin,” ujar Retno.
Dia juga berpesan agar para peserta tidak menyerah menghadapi tantangan dan kelak membuka kesempatan bagi perempuan lain ketika telah mencapai posisi kepemimpinan.
Chair Shandri Foundation, Andika Prasetya, mengatakan yayasan berencana memperluas program mentorship pada 2027. Pihaknya menargetkan penyelenggaraan tiga angkatan Saraswati Fellowship dengan melibatkan lebih banyak mentor dan tokoh dari berbagai sektor.
Pada tahun yang sama, Shandri Foundation juga berencana memperkenalkan Seed Program yang berfokus pada pengembangan investasi dan pemagangan virtual bagi mahasiswa tingkat akhir. Program tersebut ditujukan untuk mempersiapkan peserta memasuki dunia kerja di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah mentor yang hadir dalam acara tersebut antara lain Shinta Widjaja Kamdani, Farina Situmorang, Ferro Ferizka Aryananda, dan Tamara Gondo. Acara juga dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Anthony Sondakh, Andhi Anggoro, serta Anie Djojohadikusumo.
Setelah kelulusan angkatan kedua, Saraswati Fellowship akan mempersiapkan Batch III. Penyelenggara menargetkan perluasan jangkauan program agar semakin banyak perempuan muda di berbagai daerah memperoleh akses terhadap pendampingan, jejaring, dan pengembangan kapasitas kepemimpinan.