Sumenep (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur mempersiapkan penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah itu melalui pendekatan pentahelix, yakni pendekatan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, lembaga usaha, akademisi, dan media.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep Kamiluddin mengatakan, pendekatan pentahelix dilakukan agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat, terpadu dan terarah.
"Sehingga dengan pola penanganan yang melibatkan banyak pihak ini, risiko bisa ditekan dan penanganan akan lebih cepat," katanya seusai mengikuti apel kesiapsiagaan bencana di Sumenep, Jawa Timur, Rabu.
Apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana hidrometeorologi 2026-2027 di Sumenep itu dipimpin melibatkan berbagai unsur. Di antaranya, polisi, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), petugas pemadam kebakaran, BPBD dan Basarnas.
Selain untuk melihat kesiapan personel, apel itu juga untuk mengetahui ketersediaan peralatan, dan logistik penanganan darurat yang telah menjadi bagian dari langkah antisipasi.
"Selain tentang kesiapan personel dan peralatan yang juga kami tekankan tentang pendidikan sadar kepada masyarakat bencana melalui media massa, dan peningkatan pengawasan informasi cuaca dan peringatan dini," katanya.
Kepala BPBD Kamiluddin lebih lanjut menjelaskan, Pemkab bersama Polresta dan Kodim 0827 Sumenep juga telah menyepakati beberapa upaya guna mempersiapkan penanganan bencana yang berpotensi terjadi pada perubahan musim kali ini.
Di antaranya mendirikan posko penanganan darurat bencana selama 24 jam untuk mendukung koordinasi apabila terjadi keadaan darurat. Melakukan edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan berbasis komunitas dan melalui media massa.
"Terkait upaya pengurangan risiko bencana, dalam beberapa hari ke depan, kami juga telah menjadwalkan untuk melakukan pembersihan saluran air, normalisasi sungai,dan pemeriksaan fasilitas pengendali banjir," kata Kamiluddin.
Secara terpisah Kapolresta Sumenep Kombes Pol Ariek Indra Sentanu mengaku, telah menginstruksikan kepada semua polsek jajaran di daratan dan kepulauan untuk memimpin kegiatan bersih-bersih saluran air di daerah masing-masing untuk mencegah banjir.
"Khusus personel polisi yang bertugas di desa seperti Bhabinkamtibmas, saya minta untuk berbaur dengan masyarakat, bahkan memandu mereka melakukan gotong royong bersih-bersih aliran air, untuk mencegah banjir," kata Ariek.