Kota Mojokerto (ANTARA) - Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau yang akrab disapa Ning Ita menerima penghargaan AIDS, Tuberkulosis, Malaria (ATM) Award 2026 dari Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes).
Dalam keterangan yang diterima di Kota Mojokerto, Rabu, mengatakan penghargaan ini diberikan atas komitmen dan kontribusi dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan, khususnya dalam pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC, dan malaria.
"Pemkot Mojokerto bersinergi dengan masyarakat untuk menemukan kasus secara aktif hingga tingkat RT/RW. Selain itu, kami mengintegrasikan layanan agar masyarakat mudah mengakses pemeriksaan maupun pengobatan," kata Ika.
Ia mengemukakan, komitmen tersebut tercermin dalam upaya penanganan HIV/AIDS yang dilakukan melalui pemeriksaan atau skrining terhadap kelompok populasi kunci dan kelompok berisiko.
Dari sisi pengobatan, kata dia, layanan perawatan, dukungan, telah tersedia di seluruh fasilitas layanan yang ditunjuk, yakni enam puskesmas dan enam rumah sakit di Kota Mojokerto.
"Pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) juga dilakukan melalui kader Layanan Komprehensif Berkesinambungan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), serta LSM Mahameru," katanya.
Sementara dalam penanganan TBC, Pemkot Mojokerto terus memperkuat penemuan kasus, pendampingan, dan pemantauan pasien agar pengobatan berjalan hingga tuntas dengan keberhasilan pengobatan 91,78 persen.
Adapun dalam pengendalian malaria, Kota Mojokerto telah memperoleh sertifikat eliminasi malaria sejak 2014.
"Kami terus mempertahankannya melalui survei migrasi dengan melakukan pemeriksaan terhadap warga yang baru kembali dari daerah endemis malaria, serta pemeriksaan jentik nyamuk Anopheles untuk mengetahui tingkat kerentanan wilayah terhadap penularan malaria," katanya.
Menurut Ning Ita, keberhasilan program juga tidak lepas dari dukungan anggaran dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, mulai dari kader kesehatan, organisasi kemasyarakatan, LSM, hingga komunitas di tingkat lingkungan.
"Pencegahan dan pengobatan harus didukung ketersediaan anggaran yang memadai serta kolaborasi lintas sektor. Karena itu, kami melibatkan berbagai komunitas dan elemen masyarakat agar upaya pengendalian penyakit ini berjalan optimal," katanya.