Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) Prof Nasaruddin Umar menegaskan bahwa penguasaan sains dan teknologi menjadi kunci untuk kemajuan umat Islam.
"Kalau kita ingin meraih kembali kejayaan ilmu dalam sejarah Islam, kita harus menguasai ilmu pengetahuan. Penguasaan sains dan teknologi sangat penting," kata Nasaruddin di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu sore.
Hal itu dikatakan Menag saat membuka Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga yang mempertemukan mahasiswa dari 54 PTKIN untuk berkompetisi, bertukar gagasan, dan mengembangkan jejaring akademik dalam bidang agama, sains, dan riset.
Menurut Menag sejarah keilmuan Islam memperlihatkan hubungan erat antara kedalaman pemahaman agama, penelitian, dan pengembangan teknologi.
Para ilmuwan, lanjut dia, mengembangkan pengetahuan dengan mengamati kebutuhan kehidupan, mulai dari penyediaan air hingga pelayanan kesehatan.
Tradisi tersebut perlu dihidupkan di kampus melalui keberanian bertanya, ketekunan meneliti, dan kemampuan mengubah pengetahuan menjadi manfaat.
"Kita perlu terus membangun tradisi bertanya, meneliti, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat," ujarnya.
Nasaruddin juga menyoroti peluang keterlibatan PTKIN dalam pengembangan teknologi hilirisasi, sehingga perguruan tinggi keagamaan memiliki ruang untuk membantu meningkatkan nilai tambah sumber daya yang dimiliki Indonesia.
"UIN dan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama perlu berperan dalam pengembangan teknologi hilirisasi tersebut, tentu bersama perguruan tinggi umum juga," katanya.
Oleh karena itu, melalui OASE PTKIN, Menag berharap temuan mahasiswa terus disempurnakan hingga mampu menjadi kebanggaan bangsa dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan sains.
Meski demikian Menag mengingatkan kemampuan teknologi harus disertai bimbingan nilai dan tanggung jawab, perkembangan kecerdasan buatan perlu mendapat perhatian serius agar pemanfaatannya membawa kebaikan bagi kehidupan.
"Jangan sampai ilmu pengetahuan berkembang tanpa bimbingan nilai dan tanggung jawab. Kemampuan yang besar dapat membawa akibat yang merusak apabila digunakan dengan cara yang salah," kata Menag.